banner

Rakyat Nduga Meminta Perlindungan HAM

JAKARTA. Jaringan Peduli Papua yang berada di bawah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dalam keterangan persnya menyatakan sikap kepripatinan yang dialami warga Nduga adalah akibat dari konflik berkepanjangan. PGI lewat pernyataan yang dibacakan oleh salah ketua PGI, Pdt. Dr. Albertus Patty menyatakan duka cita mendalam atas jatuhnya ratusan korban serta mengakibatkan ribuan warga harus meninggalan rumah dan harta benda mereka agar luput dari peristiwa tersebut. Selanjutnya meminta pihak TNI-POLRI dan TPN/OPM untuk segera menghentikan kontak senjata dan segala bentuk kekerasan serta segera mempertimbangkan kebijakan untuk menarik pasukan dari wilayah Nduga. Dalam upaya menuntaskan kasus ini, diperlukan pendekatan baru yang lebih mengedepankan kemanusiaan dan  memberi rasa nyaman bagi warga Nduga.

Theo Hesegem, Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua dalam keterangannya di kantor PGI (15/8/19) menyatakan bahwa “ada 184 orang korban kemanusiaan terdapat 21 perempuan dewasa meninggal, 69 laki-laki dewasa meninggal, 21 anak perempuan meninggal, 20 anak laki-laki meninggal, 14 balita perempuan meninggal, 12 balita laki-laki meninggal, delapan bayi laki-laki meninggal, 17 bayi perempuan meninggal; termasuk satu pendeta yang masih dinyatakan hilang dan seorang anak kecil yang masih belum ditemukan. Di pihak Polri-TNI telah kehilangan jiwa 14 orang.



About kabarbaik