banner

Kebaikan Tuhan Tidak Pernah Berakhir

Kisah perjalana hidup seseorang seakan kisah misteri yang tidak mengetahui dimana kaki akan menginjakan langkahnya di bumi ini. Perjalanan hidup ini seakan tidak cerita alam yang penuh dengan siklus yang terus berputar tanpa membedakan siapa kita. Adalah seorang Jhon SE Panggabean SH.,MH lahir di kota Tarutung 13 September 1964 dari ayah Alm. St. P Panggabean dan ibu A Aritonang, mempunyai istri tercinta bernama Hartaty Tiurma Pakpahan.

Dalam perjalanan hidup saya sejak SMP saya sudah hidup dalam okultisme (kuasa kegelapan) yaitu memegang jimat dan hidup tidak teratur yaitu hidup malam begadang, dan minum-minuman keras, sehingga saya harus berpindah sekolah dari Tarutung ke Barus sampai ke Medan. Awalnya jimat yang saya pegang dari om saya katanya untuk menjaga diri sebagai pertahanan sewaktu saya pindah ke kota Barus. Saya tidak hanya memakai 1 (satu) dukun bahkan berganti-ganti. Singkat ceritanya setelah lulus SMA tahun 1983 saya ikut test Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) di Universitas Sumatera Utara (USU) pilihan musikologi dan hukum, namun saya tidak lulus karena saya tidak belajar. Akhirnya kakak saya yang sudah lebih dahulu berada di kota Jakarta  menyuruh saya untuk ke Jakarta dan saya test di Universitas Kristen Indonesia Fakultas Hukum dan bersyukur lulus pada gelombang ke dua.

Sejak awal masuk kuliah saya mengajak kawan-kawan untuk minum-minuman keras, tetapi  saat itu seorang teman kuliah yang bernama Perry B. Pada yang orangtuanya tinggal di Jakarta tapi dia justru mengajak saya untuk bersama-sama kos satu kamar. Dia orang yang pintar di sekolah serta guru sekolah minggu, dia saat itu selalu belajar sedangkan saya selalu minum-minum dan pulang larut malam ke tempat kos. Saya pulang dia saya temui masih belajar dan dia selalu mengajak saya untuk berdiskusi tapi bagaimana aku bisa diskusi karena saya tidak belajar sementara dia menguasai pelajaran sehingga kalau diajak diskusi saya diam saja, tidak bisa. Suatu ketika karena malu, saya merenung dia selalu belajar dan memahami pelajaran-pelajaran yang sudah diajarkan dosen di kampus, sehingga saat itu saya bertekad untuk belajar walaupun kehidupan masih belum teratur dan saya coba terus belajar dan ternyata saya bisa mengikuti apa yang diajarkan dosen akhirnya saat ujian saya bersama dia selalu lulus di yudisium pertama. Kemudian saya baru menyadari ternyata pergaulan yang baik akan membuat kita baik, hal ini sesuai dengan Firman Tuhan.

Setelah kami tamat kuliah Sarjana Hukum (SH) tahun 1988 kawan saya Perry bekerja di Kementerian Luar Negeri dan dia bertugas di luar negeri. Saat tamat saya berumur 24 tahun dimana 1 (satu) tahun kemudian saya mendapatkan izin pengacara dan mulai menangani perkara bahkan sudah mulai banyak yang saya tangani dan saat itu rasanya gampang dapat uang. Uang tersebut saya hambur-hamburkan, hidup di kehidupan malam di bar dan jimat tetap saya pegang. Tetapi suatu ketika saya merasakan kok hidup saya hampa sementara adik saya yang bernama Juni yang tinggal bersama saya, saya lihat selalu bersukacita, kalau saya pulang dari café/bar jam 5 pagi dia mau berangkat ke gereja dan saya omelin “mau kemana sih pagi-pagi?” dia berkata ke gereja bang dan dia selalu ceria. Suatu ketika ada seorang pendeta yang datang kerumah mencari adik saya Juni biasanya kalau pendeta tersebut datang saya tidak suka dan saya pergi, namun ketika itu adik saya karena tidak ada dirumah pendeta tersebut menyatakan “bisa masuk sebentar?” saat itu saya persilahkan. Kemudian dia menyatakan ke saya; “kalau Pak Panggabean mau bahagia buanglah jimat yang dipegang amang (“Bapak”)”. Saat itu, saya hanya diam saja kemudian dia pamit untuk pulang.

Akhirnya saya mulai merasakan kok hidup saya hampa padahal uang ada. Saya mulai bosan dan tidak lagi menikmati hidup yang minum-minum dan ingin seperti adik saya Juni yang selalu ceria dan sukacita. Suatu ketika waktu pulang dari bar jam 1 pagi saya menyatakan dalam hati kepada Tuhan “kalau memang Engkau ada tolong saya ingin seperti adik saya Juni, saya mau ke gereja dan berikanlah saya jodoh,” lalu saya ketiduran, jam 4.30 saya terbangun dan saya berangkat ke gereja  (Gereja Pdt. Jusuf Roni) yang saat itu ada di UKI. Selama di gereja saya merasakan satu sisi ada sukacita dan di sisi lain ada penolakan karena ilmu yang saya pegang tersebut.

Beberapa lama kemudian mulai perasaan hampa datang lagi menghampiri saya dan saya mulai mengalami sakit yaitu awalnya sakit biasa, sakit asam urat bengkak susah berjalan dan kerumah sakit di opname. Saya tidak bisa makan obat karena ternyata alergi obat, karena memang sudah lebih 15 tahun tidak pernah memakan obat. Ternyata karena penyakit asam urat saya saat itu sembuh dengan sendirinya kurang lebih 5 hari. Setelah sembuh saya masih hidup dengan pola makan yang tidak benar yaitu sering makan malam dan begadang dan saya sangat gemuk. Kemudian kambuh lagi sakit asam urat saya dan kembali lagi kerumah sakit karena kumat.

Karena tidak ada obat yang cocok (alergi), maka atas saran teman, saya makan jamu ternyata jamu tersebut BPOMnya palsu mengandung doping yang kemudian dilarang beredar, sehingga saya berhenti mengkonsum-sinya. Kemudian saya sakit kembali dan masuk ke rumah sakit UKI lagi dan kemudian dirujuk kerumah sakit lain yang ada seorang professor ahli di bidang asam urat. Saya diberikan obat yang cocok (tidak alergi) namun ternyata membuat lambung saya terkikis dan saya muntah-muntah selama berbulan-bulan. Pendek cerita saya sakit terus-menerus sampai 10 kali masuk rumah sakit dan berat badan saya turun sampai 29 kg hingga berat badan saya hanya tinggal 47 kg. Keadaan saya semakin parah sampai saya tidak bisa berjalan terbaring ditempat tidur meriang terus menerus, hasil lab menyatakan tulang di tubuh saya juga keropos (osteoporosis) tidak bisa jalan atau berdiri ( kurang lebih 1 bulan pakai kursi roda), mata saya kabur tidak bisa melihat dalam jarak 10 meter dan saya juga disebut mengidap penyakit gejala lupus. Saya sangat menderita sekali keluar masuk rumah sakit sampai ke RS.Pantai Hospital Penang. Saat itu dalam hati dan pikiran saya selalu ada suara yang mengatakan bahwa saya akan mati dan masuk neraka karena pengampunan sudah tidak ada bagi saya. Saat itu saya terus berdoa meminta ampun kepada Tuhan dan mengatakan “Tuhan tolong jangan ambil nyawa saya, kalau Tuhan berkenan panjangkanlah umur saya dan beri kesempatan kepada saya lagi untuk berubah” dan suatu ketika saya berdoa “Tuhan, kalaupun Tuhan mengambil saya jangan masuk neraka”. Ternyata perasaan mau mati dan masuk neraka adalah tuduhan iblis kepada saya saat itu karena saya memberikan celah dimana kuasa kegelapan sudah di buang dari saya dan saya sudah pernah disembuhkan tetapi saya tidak setia didalam Tuhan.

Saya bersyukur karena istri dan anak-anak saya selalu setia untuk mendampingi dan terus mendoakan saya selama sakit. Selama sakit saya selalu berdoa dan membaca firman serta mendengar lagu-lagu rohani dan khotbah di youtube melalui handphone itulah yang menguatkan saya. Kemudian waktu di periksa laboratorium kembali, dokter menyatakan penyakit lupus (autoimun) saya telah hilang, tetapi beberapa bulan berikutnya harus dicek lagi, setelah di cek ternyata masih ada lagi begitulah berulang-ulang. Karena sudah merasa capek berobat dan makan obat yang bermacam-macam akhirnya saya memutuskan menyatakan kepada istri saya agar terus berdoa dan berserah kepada Tuhan saja dan tidak usah lagi makan obat dan memohon kepada Tuhan agar menyembuhkan secara total. Ternyata Tuhan sungguh amat baik, saat ini saya sudah sembuh dan telah beraktivitas kembali. Mujizat yang diberikan Tuhan kepada saya sebelum mengalami sakit yang panjang tersebut, yang merupakan peringatan kepada saya sebelumnya sudah ada yakni kecelakaan mobil yang saya alami di tol (Juli 2016), dimana mobil yang saya kemudikan dengan kecepatan tinggi pecah ban dan berputar-putar, saya berteriak “Tuhan Yesus, tolong saya”. Saat itu Tuhan memberikan mujizat kepada saya dimana tubuh saya berputar mengikuti perputaran mobil tersebut hingga mobil tersebut menabrak pembatas jalan dan sampai 4 (empat) separator tol putus serta mobil saya rusak berat, namun saya sama sekali tidak ada terbentur atau luka/lecet.

Saya sungguh berterimakasih kepada Tuhan yang sangat baik karena melalui peristiwa yang panjang ini saya memahami bahwa apapun yang saya alami beberapa waktu lalu kurang lebih 2 (dua) tahun sakit dibaliknya ternyata ada suatu kebaikan Tuhan yakni agar saya kembali selalu didalam Tuhan. Tuhan telah memberikan mujizat kepada saya berkali-kali dan saya mengatakan kepada istri dan anak-anak untuk selalu mendoakan saya. Sekalipun saya sepertinya harus memulai lagi dari awal sebagai seorang lawyer saya tetap bersyukur. Salah satu yang saya syukuri disaat saya sakit dan hampir tidak mampu mengelola kantor saat itu, ternyata Tuhan masih memberikan sesuatu yang membahagiakan yakni ketiga anak saya Samuel Panggabean,S.Th., Clara Panggabean,S.H., dan Gracia Panggabean,S.H telah menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan baik.

Perjuangan hidup kita masih tetap berlangsung, tetapi saya yakin Tuhan akan selalu menolong kita sepanjang kita mau setia dan datang kepadaNya. Dengan pengalaman hidup saya ini, saya menyarankan kepada saudara-saudaraku yang mengalami penderitaan apapun agar datang dan berdoa kepada Tuhan, Tuhan pasti akan memberikan jalan keluar, yang susah akan dihibur, yang lemah dikuatkan, yang sakit akan disembuhkan, yang kekurangan akan dicukupkan. Satu hal lagi yang sangat penting berdasarkan pengalaman saya ini bagi saudara-saudaraku yang sudah bertobat dan telah diberikan berkat oleh Tuhan janganlah sekali-kali kembali ke kehidupan yang lama, sekalipun telah sibuk tetaplah memberikan waktu yang terbaik kepada Tuhan dalam pelayanan.
Jhon SE Panggabean SH.,MH bersama istri tercinta Hartaty Tiurma Pakpahan mempunyai 3 orang anak bernama Samuel Panggabean,S.Th., Clara Panggabean,SH, dan Gracia Panggabean,SH.



About kabarbaik