banner

Boni Hargens: Merawat Keindonesiaan

Diskusi yang diadakan oleh Lembaga Pemilh Indonesia mengangkat tema merawat keindonesiaan dengan isu yang diangkat gelojak Pemilu 2019: Problem demokrasi elektrotal atau sekedar mainan bandar politik? Diskusi dengan nara sumber Arbi Sanit (Guru Besar FISIP UI), Adhie M. Massardie (Deklarator Pemenangan Prabowo Sandi), Prof. Dr. Indria Samego, MA. (Peneliti LIPI), Hadar Nafis Gumay (Mantan Komisioner KPU) diantar sambutan oleh Boni Hargens, Direktur Lembaga Pemilih Indonesia dengan moderator Ghivani Adilah Irwanda (Finalis Abnon Jakpus 2019). Diskusi yang diadalan pada 11 Mei 2019 lalu di salah satu restoran di Plaza Sentral, Jakarta dihadiri kalangan media massa sambil berbuka puasa.

Boni Hargens Direktur Lembaga pemilih Indonesia menjelaskan bahwa
“Pasal tentang makar yang belakangan ini tengah menjadi perbincangan hangat di masyarakat belakangan ini, yang secara tidak langsung mempengaruhi prespektif masyarakat awam apabila tidak memahami secara mendetail makna sebenarnya mengapa hal yang belakangan tabu untuk dibahas ini bisa naik kepermukaan?” Tentu saja banyak faktor yang mempengaruhi istilah ini bisa menjadi bahasan umum belakangan ini.
Rasa solidiritas kelompok adalah aspek utama dalam segala hal dan sebagai hulu dari segala aktivitas apapun yang ada dan tumbuh dalam masyarakat tetapi, belakangan ini solidaritas kelompok tersebut sering di manfaatkan kearah yang negatif terkadang, suatu individu dalam kelompok kurang menyadari bahwa satu kebencian yang terbentuk dalam suatu kelompok akan mempengaruhi seluruh anggota yang berada dalam lingkup kelompok tersebut. Banyak hal yang membuat rasa benci atau pembentuk sebuah kebencian itu didasari oleh hal-hal sosial yang masyarakat muak atau tidak sependapat terhadap suatu hal.

Indonesia baru saja melaksanakan pesta demokrasi pada tanggal 17 April 2019 kemarin, selama delapan bulan masa kampanye solidaritas kelompok ini terbentuk dan terbagi menjadi dua kubu yang saling besebrangan dalam konteks pilihan dan tentunya pandangan politik selama delapan bulan ini pula terjadi banyak sekali pergesekan di elite politik maupun dibawahnya seperti relawan dan lainnya. Banyaknya penggiringan opini yang dilakukan oleh masing-masing pendukung kedua pasangan calon ini. Pasca pemilihan umum pun lebih banyak opini yang terbentuk salah satunya adalah tentang kecurangan dalam pemilihan umum yang diselenggarakan serentak pada tahun 2019 ini. Tidak seperti tahun sebelumnya dimana pemilu presiden ini tidak diwarnai dengan tudingan tersebut maka timbulah prespesi dari lain pihak bahwa ini hanyalah sebuah narasi kecurangan yang dibentuk oleh salah satu kubu pasangan calon.

Akibat dari pembentukkan kepercayaan melalui solidaritas kelompok tersebut maka makin besarlah isu ini berkembang di masyarakat mulai dari mulut ke mulut hingga ke ranah media sosial. Akan tetapi, anggapan narasi ini sebenarnya juga adalah bentuk lama dari implementasi dari sebuah bisnis politik hanya dikemas dengan secara persuasif bedanya dengan zaman pasca era reformasi adalah tidak digunakan kembali metode kekerasan ataupun cara kasar. Akan tetapi, hal ini tentunya sama saja berbahaya nya apabila benar jika ini hanya rangkaian dari sebuah narasi politik karena tidak bisa dipungkiri segala hal yang ada disekitar kita dengan mudah dapat disusupi melalui hal-hal sensitif dan vital di lingkungan masyarakat seperti membawa isu keagamaan dan lainnya.
Semua hal ini dapat kita lihat secara bijak hanya melalui prespektif kita sendiri karena, jika kita hanya memandang dari sudut yang satu dan tidak memperhatikan kebenaran yang lain maka kita akan terprovokasi atau bahkan termindset dengan suatu hal yang sudah ditanamkan tersebut. Dalam bersosialisasi akan ada arah tujuannya, kita boleh memilih tetapi juga harus memilah jangan sampai kita memiliki pemikiran sumbu pendek yang akan berakibat fatal pada persatuan di Negara kita tercinta ini, Indonesia.



About kabarbaik